“KECERDASAN SPIRITUAL DAN INTENSI PERILAKU MENYONTEK SISWA”
Artikel Koran
Oleh: Ferian Yulianto
(2021116039)
Prestasi dan nilai yang baik merupakan hal yang diharapkan setiap pelajar, khususnya bagi siswa SMA yang sebentar lagi akan menentukan masa depannya dengan melanjutkan ke perguruan tinggi. Kecurangan dalam dunia pendidikan dengan cara menyontek sering kali dilakukan oleh siswa ketika mengerjakan tugas-tugas di sekolah baik tugas harian maupun ujian/tes.
Menurut KBBI (Team Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2001), menyontek arti: .melanggar; menolak; menggocoh; dan mengutip (tulisan dsb) sebagaimana aslinya;menjiplak. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwodarminta, 1984) cerdas artinya 1 sempurna perkembangan akal budinya (pandai, tajam pikiran dsb); 2 sempurna pertumbahan tubuhnya (seperti sehat, kuat dsb). Kecerdasan berarti kesempurnaan perkembangan akal budi (seperti kepandaian,ketajaman pikiran dsb).
A. Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan Spiritual menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia :
-Sempurna perkembangan akal budinya (pandai,tajamPikiran).
-Sempurna Pertumbuhan tubuhnya seperti: sehat dan kuat).
Kecerdasan merupakan kesempurnaan perkembangan akal budi seperti:kepandaian,ketajaman pikiran.
Istilah Spiritual berasal dari kata Spirit yang berarti jiwa,sukma,roh,kata ini berarti semangat.
Spiritual yaitu rohani, batin,kejiwaan,mental dan moril.
Menurut Sinetar kecerdasan spiritual merupakan kecerdasanya yang diilhami oleh dorongan dan aktivitas.
Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient disingkat SQ) adalah kecerdasan untuk memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain (Zohar, 2001).
SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan Intellegent Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ) secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita, karena SQ merupakan landasan dan sumber dari kecerdasan yang lain. Kecerdasan spiritual adalah potensi dari dimensi non-material atau roh manusia (Khavari, 2000). Potensi tersebut seperti intan yang yang belum ter-asah yang dimiliki oleh semua orang. Selanjutnya, tugas setiap oranglah untuk mengenali potensi masing-masing sekaligus menggosoknya hingga berkilau dengan tekad yang besar dan menggunakannya untuk memperoleh kebahagiaan abadi.
Mengukur Kecerdasan Spiritual
Individu yang cerdas secara spiritual melihat kehidupan ini lebih agung dan sakral, menjalaninya sebagai sebuah panggilan (vocation) untuk melakukan sesuatu yang unik, menemukan ekstase-ekstase kehidupannya dari pelayanan kepada gagasan-gagasan yang bukan pemuasan diri sendiri, melainkan kepada tujuan luhur dan agung, yang bahkan sering keluar dari dunia ini, bersifat abadi dan eksatologis. Kehidupan menjadi lebih sebagai instrument ketimbang tujuan akhir.
Secara lebih khusus, Zohar (2001) mengidentifikasikan sepuluh kriteria mengukur kecerdasan Spiritual seseorang, yaitu:
Secara lebih khusus, Zohar (2001) mengidentifikasikan sepuluh kriteria mengukur kecerdasan Spiritual seseorang, yaitu:
- Kesadaran Diri
- Spontanitas, termotivasi secara internal
- Melihat kehidupan dari visi dan berdasrkan nilai-nilai fundamental
- Holistik, melihat sistem dan universalitas
- Kasih sayang (rasa berkomunitas, rasa mengikuti aliran kehidupan)
- Menghargai keragaman
- Mandiri, teguh melawan mayoritas
- Mempertanyakan secara mendasar
- Menata kembali dalam gambaran besar
- Teguh dalam kesulitan
Ciri-ciri dari kecerdasan spiritual yang telah berkembang dalam diri seseorang adalah sebagai berikut (Zohar, 2001):
- Kemampuan bersifat fleksibel
- Tingkat kesadaran diri yang tinggi
- Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
- Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
- Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
- Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
- Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal
- Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa” atau “bagaimana” jika untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
- Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai bidang mandiri, yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.
Aspek-aspek Kecerdasan Spiritual
Menurut (Khavari, 2010), ada beberapa aspek yang menjadi dasar kecerdasan spiritual, yaitu:
- Sudut pandang spiritual-keagamaan, artinya semakin harmonis relasi spiritual-keagamaan kita kehadirat Tuhan, semakin tinggi pula tingkat dan kualitas kecerdasan spiritual kita.
- Sudut pandang relasi sosial-keagamaan, artinya kecerdasan spiritual harus direfleksikan pada sikap-sikap sosial yang menekankan segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial.
- Sudut pandang etika sosial. Semakin beradab etika sosial manusia semakin berkualitas kecerdasan spiritualnya.
4. Kemampuan bersikap fleksibel.
5. Tingkat kesadaraan diri yang tinggi
6. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
7. Kemampuan untuk menghadapi dan melampui rasa sakit.
8. Kualitas hidup yang diilhami oleh uji dan nilai.
9. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu .
10. Berfikir secara holistik
11. Kecenderungan untuk bertanya.
B. Intensi Perilaku Menyontek
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia monyontek mempunyai arti :
A.Melanggar,menolak
B.Mengutip ,menjiblak
Menurut Alhadza,cheating adalah segala perbuatan atau trik-trik yang tidak jujur , perilaku tidak terpuji atau perbuatan curang yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik terutama yang terkait dengan evaluasi hasil belajar.
1. Alasan yang Mendorong Siswa untuk Menyontek
Menurut Halida ada alasan lain yang mendorong siswa untuk menyontek yaitu:
a.Tekanan tinggi
Adanya tuntutan dari orang tua agar siswa mendapatkan nilai yang bagus dan harus bisa naik kelas sehingga siswa melakukan berbagai cara agar memperoleh nilai yang bagus termasuk dengan menyontek .
b.Pengaruh teman
Pengaruh lingkungan, dalam hal ini teman sangat mempengaruhikebiasaan siswa menyontek
c.Sanksi yang diberikan
Tindakan menyontek ini, jika sanksi yang diberikan berat, seperti tidak naik kelas atau tidak lulus mata kuliah, maka itu akan lebih efektif untuk meminimalisasi tindakan menyontek.
d.Andil guru
Kecurangan akhir-akhir ini ditemui menyatakan bahwa kecurangan akademik yang berasal dari pengajar itu sendiri seperti membocorkan soal ujian.
v Ada beberapa alasan yang menyebabkan siswa menyontek:
a.Siswa tidak menguasai materi yang diujikan
b.Malas belajar
c.Meremehkan mata pelajaran tertentu
d.Memusatkan pelajaran pada mata pelajaran tertentu saja
e.Ingin mendapatkan nilai yang bagus dengan cara apa saja
f.untuk mendongkrak nilai
g.Bawaan sejak dulu sehingga tidak bisa melepaskan diri dari menyontek.
2. Faktor yang mempengaruhi intensi perilaku menyontek (Menurut Alhadza):
a.Faktor pribadi meliputi rasa percaya diri,konsep diri,dan cara berfikir b.Faktor lingkungan
dan kelompok hal ini berkaitan dengan pengaruh teman dan pergaulan.
c.Faktor sistem evaluasi ,berkaitan dengan instrumen atau alat yang digunakan dalam evaluasi atau tes.
d.Faktor guru meliputi sikap objektif guru, keteladanan, perilaku moral guru dan pemberian reward pada setiap penugasan.
3. Bentuk -bentuk Intensi perilaku menyontek (menurut Alhadza):
a.Meniru pekerjaan teman
b.Bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan ujian.
c.Membawa catatan berupa kertas dan dibawa masuk ke ruang ujian.
d.Menerima jawaban dari pihak luar
e.Mencari bocoran soal
f.Saling tukar-menukar mengerjakan tugas dengan teman
g.Meminta bantuan orang lain menyelesaikan tugas ujian dikelas atau take home test.
4. Penanggulangan Perilaku Menyontek Solusi atau tindakan tersebut antara lain:
a.Menciptakan kondisi belajar siswa yang tanpa tekanan dan paksaan .
b.Memberikan Penghargaan kepada siswa yang mempunyai prestasi bagus tanpa menyontek.
c.Memberikan sanksi atau hukuman kepada siswa yang menyontek saat ujian.
Antara kecerdasan spiritual dan intensitas menyontek siswa sangat berkaitan. Siswa yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik maka kecenderungan untuk melakukan kecurangan dalam di sekolah akan semakin kecil. Begitu pula sebaliknya, apabla kecerdasan spiritual siswa rendah, maka kecenderungan siswa untuk melakukan kecurangan-kecurangan dalam mengerjakan tugas akan tinggi.
Bagus sekali dan sangat membantu
BalasHapusterima kasih banyak
Hapuskarya yg berkualitas
BalasHapusterimakasih banyak mas karim
HapusSetelah saya membacanya, artikel ini sangat bagus dan bermanfaat
BalasHapusterimakasih mas robby, jangan lupa baca artikel saya yang lainnya
HapusArtikel yang menarik dan setelah di baca dapat menambah wawasan
BalasHapus